Monthly Archives: March 2005

Me and ‘Shadow’ (dialog tengah malam)

24 February

Irha – Shadow

Shadow (0:00:02): ngobrolin apa aja hari ini
Irha (0:00:10): banyaaaaaaaaaaaaakkkkkkkkkkk banget…..
Irha (0:00:22): cerita dia dengan suaminya, selingkuhannya dan teman2 kita di cetingan
Shadow (0:00:46): 😀
Irha (0:01:15): 😀
Irha (0:01:29): ibu muda itu cantik deh
Shadow (0:02:45): hahahahaha
Irha (0:02:56): kamu ngapain aja?
Irha (0:03:00): ada crita apa nih hari ini?
Shadow (0:03:27): nggak ada apa2
Shadow (0:03:50): tadi barusan temen2 saya beliin Jas buat saya
Irha (0:04:10): wah asik banget
Irha (0:04:14): dalam rangka apa sih?
Shadow (0:04:38): dalam rangka yaa itu pesta saya
Irha (0:06:13): oooh kan udah lewat
Shadow (0:06:41): iya
Irha (0:06:51): trus
Shadow (0:06:59): pas beliinnya waktu itu ukurannya nggak pas
Shadow (0:07:06): trus dibalikkin
Shadow (0:07:16): trus tadi siang kita ambil
Irha (0:07:24): oooo hihihihi asik yah dibeliin
Shadow (0:07:48): hehehehehehe
Irha (0:08:16): aku kapan yah dibeliin
Shadow (0:09:01): yaa udah
Shadow (0:09:11): saya bulan juli-agustus pulang ke indo
Irha (0:09:15): harus ngadain pesta dulu yah??? hihihi
Shadow (0:09:16): kamu mau oleh2 apa ?
Irha (0:09:20): asiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiikkkkkkkkkkkkkkkkk
Irha (0:09:31): apa yah??? tambah bingung
Shadow (0:10:02): hehehehehe
Irha (0:10:25): gak tau…..(paling gak tau kalo suruh milih)
Irha (0:11:25): apa aja asal dibawain sama Shadow…. ntar balesannya diajak kliling2 jakarta-Bandung buat belanja dan makaaaaaannnnnnnn……….
Irha (0:17:01): wah pasti nyari kopi
Shadow (0:29:38): hehehehehe
Irha (0:29:47):
Shadow (0:29:50): habis ambil print
Irha (0:30:23): ooo wah print jangan diambil ntar ditimpuk orang loh
Shadow (0:33:53): hehehehehe
Shadow (0:34:04): habis ngajarin analisa statistik juga tadi
Shadow (0:34:08): barusan
Irha (0:34:14): ooohhhh
Irha (0:34:16): ya ampun
Irha (0:34:19): ya udah, sibuk toh?
Shadow (0:34:37): udah selesai
Shadow (0:34:43): iya apa oleh2 apa
Irha (0:34:54): hihihihi kan tadi dah dibilang….
Irha (0:35:02): apa aja asal dibawain sama Shadow…. ntar balesannya diajak kliling2 jakarta-Bandung buat belanja dan makaaaaaannnnnnnn………. ? kapan?
Shadow (0:52:52): pinginnya sih
Shadow (0:53:06): nyari sekolah bisnis yg terkenal
Irha (0:53:30): ooh di mana rencananya
Shadow (0:53:47): di perancis juga
Irha (0:54:59): iya di kota apa?
Shadow (0:56:18): Paris, Lyon atau Bordeaux
Irha (0:56:40): hmmm paris ajah ihihihih seru tuh kayaknayh
Shadow (0:57:44): mahal di paris
Irha (0:57:49): weh…kok statusna goodby my past?
Irha (0:57:52): napa tuuuuuuuuuuuuuuhhhhhhhhhhh
Shadow (0:58:48): it’s time to say goodby with my ‘past’
Irha (0:59:14): ya ‘past’ nya apa
Shadow (0:59:27): yaa masing2 dari kita punya ‘bad experience’
Irha (0:59:49): hmm berhubungan dengan relationship ato…..
Shadow (1:00:08): nggak juga
Shadow (1:00:19): dengan hidup kali yaa
Irha (1:01:09): hihiih statusnya artinya dalem banged
Irha (1:01:14): kamu lagi kenapa? tiba2 gitu
Irha (1:01:33): karena mau ditinggalin ke washington yah?
Shadow (1:02:14): nggak ada hubungannya sama dia koq
Shadow (1:02:19):
Irha (1:02:22): heheheh bercanda dear….trus
Irha (1:02:26): kenapa? kamu lagi kenapa?
Shadow (1:03:04): it’s too late to back with my ‘past’
Irha (1:03:22): would you like to back to your ‘past’?
Shadow (1:03:41): once time before
Irha (1:03:44): trus
Shadow (1:03:48): but not anymore
Irha (1:03:49): do you enjoy it?
Irha (1:04:19): eh salah harusna ‘ did you enjoy it?’
Shadow (1:04:41): enjoy or not, it hurted me
Irha (1:05:05): are u sure it nothing to do with ‘relationship’?
Irha (1:05:15): why it was hurt you?
Shadow (1:05:47): relation with my dream, hopes, and phantasm in the past
Irha (1:05:57): if it was hurt you, why did you do that again
Shadow (1:05:59): sebenarnya sih proyek hidup yaa
Irha (1:06:02): trus
Irha (1:06:25): boleh aku tau apa itu?
Shadow (1:06:47): sebenarnya sih selama 4 bulan ini saya bimbang
Shadow (1:06:58): benar2 ragu
Shadow (1:07:10): hidup saya di dekonstruksi
Irha (1:07:25): contohnya
Shadow (1:08:12): impian di masa lalu berantakan
Shadow (1:08:21): semakin diingat semakin pedih
Irha (1:08:26): karena apa? impian seperti apa?
Shadow (1:08:40): mungkin juga saya ingin berlari dari realitas
Shadow (1:09:27): realitas ingin kembali seperti waktu kecil dulu
Shadow (1:09:34): berkumpul sama keluarga
Shadow (1:09:44): misalnya
Irha (1:09:51): hmmm…..
Shadow (1:10:16): kakak saya sudah mengingatkan saya dari awal
Shadow (1:10:29): kalau kita tidak bisa kembali ke masa lalu
Irha (1:10:35): setuju
Shadow (1:10:37): semuanya sudah berubah
Shadow (1:10:46): tapi saya nggak bisa nerima
Shadow (1:11:00): dulu very simple
Shadow (1:11:12): habis kelar S3 pulang ke indonesia trus married
Irha (1:11:26): sekarang?
Shadow (1:11:28): tapi berantakan
Shadow (1:11:41): sekarang
Shadow (1:12:14): sekarang saya memulai hidup baru
Shadow (1:12:18): hehehehehe
Irha (1:12:21): dengan cara?
Shadow (1:12:42): saya mau ngajar di sini 5-6 tahun lagi
Shadow (1:12:49): sampai jadi Professor
Irha (1:12:56):
Shadow (1:12:58): hehehehehe
Irha (1:13:12): hmmm hidup itu kadang seperti batang korek api
Irha (1:13:15): ya?
Irha (1:13:36): pelan2 dia akan habis terbakar dan kita tidak bisa lagi membentuknya seperti sedia kala
Irha (1:13:50): lalu korek itu habis, hitam dan hancur
Shadow (1:13:53): itu kenapa koq status saya seperti itu
Shadow (1:14:15): karena dikepala saya banyak pertanyaan tentang masa lalu saya
Irha (1:14:34): apakah pertanyaan2 itu bisa dijawab seseorang atau dengan sesuatu?
Shadow (1:15:22): masalahnya bukan seseorang atau sesuatu, tapi diri saya sendiri koq
Shadow (1:15:34): it’s time to go ahead
Irha (1:15:40): ya itu kan berarti dengan seseorang dan sekaligus sesuatu
Irha (1:16:01): seseorang itu ya dirimu sendiri, dengan sesuatu itu ya dengan waktu, pengertian dan pemahaman
Shadow (1:16:15): yup
Irha (1:16:22): kadang ada pertanyaan yang sama sekali tidak bisa kita jawab
Irha (1:16:36): kalau kita tidak bisa mengalahkan musuh kita, ada baiknya kita bersatu dengannya
Irha (1:16:39):
Shadow (1:16:49): life getting very very interesting
Irha (1:16:50): deal with it, dan bener kata kamu, it’s time to go ahead
Shadow (1:17:20): yup
Irha (1:17:23):
Shadow (1:17:29):
Shadow (1:17:39): Goodby my ‘past’
Irha (1:17:50):
Irha (1:18:16): goodbye good ol’ dayz….
Shadow (1:18:37): you had made what i’am now, but it doesn’t mean that you can stop me look ahead in the future
Shadow (1:18:43): you = my past
Irha (1:18:52): sip…sip..sip…..
Shadow (1:19:17): hehehehehe
Irha (1:19:19): setubuh…eh setujuh….
Irha (1:19:35): eh udah jam 7an..kamu enggak ditunggu makan malem lagi sama temenmu?
Irha (1:19:37):
Shadow (1:19:52): sekarang kamu mengerti kenapa status saya spt itu ?
Irha (1:19:57): iya saya mengerti
Shadow (1:20:06): saya sudah bicara sama kakak2 saya
Irha (1:20:09): trus
Shadow (1:20:24): dan mereka mengerti keputusan saya untuk tinggal 5-6 tahun lagi di sini
Irha (1:20:39): ok so it means, kalo kamu di indo, you have to meet me…klu enggak nunggu 5-6 taun lagi keburu bulukan….
Irha (1:21:04): pasti lah mereka mengerti
Shadow (1:21:14): saya pikir juga
Shadow (1:21:18): kalo saya balik
Irha (1:21:19): untuk apa memaksakan kehendak kalau memang itu jalan yang kamu akan pilih
Shadow (1:21:28): pasti ke jakarta dan nggak ke surabaya
Irha (1:21:40): karena surabaya penuh kenangan kamu?
Shadow (1:21:44): dan pasti setahun sekali pulang (pas liburan lebaran)
Shadow (1:22:04): Surabaya ? what can i do there ?
Irha (1:22:24): hehehehhehehhe ngapain kek…..jualan kambing juga boleh disana…
Shadow (1:22:26): I feel surabay is too small
Irha (1:22:42): bener…bener…kamu di jakarta aja (ngeracunin)
Shadow (1:22:43): that’s why i decided before to go to jakarta
Shadow (1:22:59): meskipun keputusan itu akhirnya banyak saya sesali
Irha (1:23:04): loh kenapa?
Shadow (1:23:23): karena saya ninggalin mami saya
Irha (1:23:35): ??
Shadow (1:23:41): trus habis itu dia sakit2an
Irha (1:23:53): ooo
Shadow (1:23:59): sampai 3 tahun
Shadow (1:24:11): trus pas saya pulang, dia nggak sadar diri
Shadow (1:24:27): kadang ada rasa penyesalan yg dalam
Irha (1:24:35): hmmm
Shadow (1:25:09): dan sampai sekarang
Shadow (1:25:25): itu kenapa, saya minta ijin sama kakak2 saya
Shadow (1:25:34): buat tinggal di sini 5-6 tahun lagi
Irha (1:25:37): ooo gitu
Shadow (1:25:55): saya tahu persis konsekwensi psikologis di balik keputusan saya
Shadow (1:26:19): but as long as they agree
Irha (1:26:43): they know that it might be the best for you
Shadow (1:26:44): sangat meringankan beban saya
Shadow (1:27:19): hope so
Irha (1:27:54): you’ll know yourself that if it is the best way for you, if not just turn around and go back to where you belong
Shadow (1:27:56): tapi saya mesti mantapin hati buat tinggal di sini
Shadow (1:28:41): where i belong ?
Irha (1:28:43): ya mulai lah settle disana, dimulai dari….cari pacaaaaaaaaaaaaaaaaaarrrrrrrrrrrrr………….
Shadow (1:28:55): hahahahahaha
Irha (1:29:04): where do you belong? heheheh cuma waktu yang bisa menjawab
Irha (1:29:21): ya itu aja gak boleh ke washington hihih nemenin kamu gituh
Shadow (1:29:25): there’s no other way except to say goodby with my’ past’
Irha (1:29:53): loh back to where you belong kan gak mesti back to your past toh?
Shadow (1:29:55): i have no enough reason to love her
Shadow (1:30:00): that’s my problem
Irha (1:30:07): just kiddin’
Shadow (1:30:12): nggak apa2 yaa nulis campur2
Irha (1:30:17): gak papa hihihihih
Shadow (1:30:30): kalo kamu bisa bhs perancis, saya campur2 cuga pake bhs perancis
Shadow (1:30:36): cuga = juga
Irha (1:30:39): hiiih ntar deh blajar dulu hehehehehehhehehehhehe
Shadow (1:30:52): i just write what’s going on in my head
Irha (1:30:55): for the time being, campur bahasa inggris ama bahasa preman juga boleh
Shadow (1:30:57): hehehehe
Shadow (1:31:19): it take a time to make a translation
Shadow (1:31:21): hahahahahahaha
Irha (1:31:24):
Shadow (1:31:54): on sait jamais ce qui est jamais arriv?e
Irha (1:32:10): hayah….susyah….
Shadow (1:32:28): hahahahaha
Shadow (1:32:35): yaa sudah
Shadow (1:32:40): suroboyan aja yuk
Irha (1:32:43): yooooooooooooo
Irha (1:32:46): hihihhihihih
Shadow (1:33:20): yok opo kabare
Irha (1:33:24): klu gitu ditetapkan klu ngobrol kita pake bahasa indo, bahasa inggris, soroboyoan, sama preman (tapi yang ini kamu mah yang gak ngerti)
Shadow (1:33:36): hahahaha
Irha (1:33:42): hihihihihihi
Shadow (1:33:51): wahh kosakata preman saya sangat ‘terbatas’
Irha (1:33:58): saya tau kok hihihhhih
Shadow (1:34:23): mesti beli kamus preman = indonesia
Irha (1:34:23): lah trus yang tadi artina apa dunk?
Shadow (1:34:28): atau indonesia = preman
Shadow (1:34:39): yg mana
Irha (1:34:46): preman = indonesia = preman :D:D:D


Dialog dengan ‘Sendiri’

14 March 2005

Ku sulut satu batang rokok lagi, ketika akhirnya aku sadar akan jumlah yang sudah terbakar di asbak berbentuk suku asmat (atau itu maksudnya bentuk binatang ya? Entah lah!), satu, dua, tiga, hmm.. sudah 7 batang rupanya yang kuhisap. Rokok yang malang, kubeli untuk kemudian kubakar dan kubuang. Rasa sesak sedikit membuatku terbatuk dan tersadar, sudah 2 jam aku duduk diam dan termenung sendiri disudut satu ruang café disebuah pertokoan besar ditengah kota. Ditemani oleh beberapa pegawai yang rupanya sudah mulai bosan untuk menawarkan aku tambahan minum atau sedikit snack, dan beberapa pengunjung yang, ketika ku sadar, rupanya berpasang-pasangan. Mungkin mereka sedang membicarakan masa depan palsu, dengan janji-janji palsunya, atau mungkin sedang membicarakan mengenai harga-harga yang sekarang mulai merangkak naik?

Kembali aku dengan duniaku, yang dipenuhi dengan secangkir (atau sudah tiga cangkir ya?) kopi, berbatang-batang rokok (masih ada satu pak lagi rokok yang belum kusentuh) dan satu monster yang dinamakan ‘sendiri’. Aku mulai tersenyum ketika mengatakan ini kepada sang monster didepanku, “Hai, kapan datang? Sendiri saja?” pertanyaan dan perkataan terbodoh yang kulontarkan hari itu. Sudah jelas monster itu bernama ‘sendiri’, bodoh!

“PRAAANGG…!”
Bunyi pecahan piring yang disenggol salah satu pengunjung tempat itu membuatku kembali ditarik ke realita, kedunia dimana ada beberapa mata memandangku aneh. Seorang gadis, duduk seorang diri, tersesat dengan pikiran dan dunianya, sambil tidak henti-hentinya mengepulkan asap dan nafas panjang. Mungkin kalau ada yang iseng dengan candid cameranya, gambarku di layar kaca akan ditulis: Ibu beranak 8, pengangguran dan berniat bunuh diri.

Sedemikian parahnya kah situasiku saat itu? Entah lah. Yang jelas monster itu mulai melakukan gerakan-gerakan aneh yang tidak kumengerti artinya. Makin lama monster itu makin besar, dan besar, dan besar. Membuatku pusing dan muak melihatnya. Ingin rasanya kupanggil satu pleton angkatan bersenjata untuk datang dan menarik monster itu pergi jauh dariku.

Jauh dari keinginannku tadi, yang bisa kulakukan hanya diam dan menunggu monster itu duduk karena lelah. Duduk (berusaha) manis didepanku dan menyeringai, jelek dan memuakkan!

“Nitnit…nitnit…”
New Message from Blablabla (begitu kunamai seseorang yang akhir-akhir ini ‘dekat’ denganku, di phonebook handphoneku).
‘Read’ dan ‘Exit’ menanti untuk kupilih, kemudian:

Blablabla
14/03/05 16:30
Hai, pasti lagi ngopi, ngudud dan bengong sore ini! Posisi dong, nanti aku meluncur kesampingmu, ikutan bengong dan ngopi dan ngudud! ***End***

Sudut bibirku naik beberapa milisenti menandakan ada sedikit senyum disitu. Entah angin apa yang membuat dia menghubungi dan menemaiku sore ini. Kupandang lekat-lekat monster didepanku yang sepertinya sedikit mengkerut, mengecil dan lebih mengecil (lebih kecil dari besar terakhir saat monster itu bergerak-gerak). Apakah karena dia, yang tadi mengirim sms, akan datang menemaniku, makanya monster itu sedikit terkalahkan?

Sambil menunggu dia datang – karena sms balasan yang kukirimkan sekaligus peta keberadaanku- kembali aku terdiam. Tanpa sadar, aku memulai percakapan dengan monster didepanku itu. Meskipun mual aku melihatnya, tetapi tetap kata-kata percakapanku keluar juga walau bibirku tidak bergerak sedikitpun.

Aku lelah, sepertinya sudah bertahun-tahun aku mencoba untuk lari dan bersembunyi dari semua kepahitan dan kebahagiaanku sendiri. Mencoba untuk menjadi orang yang optimis dibalik segunung pesimis yang mendesak untuk meledak dan memuntahkan laharnya.

Hanya lewat percakapan sunyi ini aku dapat memuntahkan semua yang ada di otakku dan sedikit dari sudut hatiku. Ah, entah untuk apa aku katakan ini semua kepadamu monster jelek! Karena kamu lah aku sekarang seperti ini, karena ingin mengabaikanmu dan membunuhmu aku menjadi seperti robot!

Kenapa kau hanya diam?? Katakan sesuatu!! Huh! Percuma, kau akan tetap diam dan kemudian membesar untuk menutupiku dari kehidupanku.

Segala cara aku coba untuk mengisi hari-hari orang lain, orang yang dekat denganku, agar dia terhindar dari monster sepertimu datang dan duduk diam dikeseharian mereka. Segala cara aku coba untuk menjadi orang yang bisa dijadikan tempat sampah bagi masalah orang lain, agar mereka tidak mengenal monster sepertimu. Segala cara aku coba untuk menjadi badut dan membuat orang tertawa ditengah kesedihan mereka, biar mereka tidak muntah dan muak karena monster sepertimu mengunjungi mereka.

Tapi apa yang ku dapat?? Semakin dan semakin betah kau duduk dan bertambah besar didepanku.

“Hei, sore-sore begini enggak boleh bengong, bisa2 disambet setan lewat!”
Tepukan lembut yang cukup membuatku tergagap dan kembali kealam sadarku datang dari seseorang yang sebenarnya sudah beberapa lama kurindukan.

“Kok malah celingak-celinguk?” sahut si empunya tangan yang menepukku lembut tadi.
Rupanya, karena kaget, aku tidak melihat kemana larinya sang monster yang dari tadi duduk didepanku, itulah sebabnya tiba-tiba aku tengok kiri dan kanan.
“Ah, enggak, Cuma mo liat ada maling enggak di mall ini” sahutku asal, yang kemudian disusul dengan tertawa kecil antara aku dan laki-laki itu.

Jarum jam lewat tanpa permisi dan meninggalkan angka 21:05 dilayar handphoneku yang tergeletak diatas meja.

“Mbak, minta bill-nya dong!”
Fiiuuuhh… sepertinya terdengar sampai ketelingaku hembusan nafas lega yang keluar dari pegawai-pegawai yang sudah sangat bosan melihat kita berdua, atau lebih tepatnya, aku!, terus-terusan berada ditempat yang sama dari sebelum sore tadi.

Samar-samar kulihat dari kejauhan, monster yang tadi duduk tenang didepanku, sedang duduk diam didepan seorang laki-laki yang melakukan hal yang sama dengan yang kulakukan tadi sore.

Sedikit senyum dan perasaan lega kulontarkan kearah sang monster yang tidak berekspresi sedikitpun memandangku.

‘Aku tidak akan mau lagi bertemu dengan mu, monster jelek!”


%d bloggers like this: