Pada hari ini, aku tiada….

31st March 2007 Pada hari ini, aku tiada…… Pada hari ini, hari saat aku mengetahui bahwa dia telah pergi, membuat ku merasa semua sendi-sendi tulangku menghilang. Pada saat semuanya tampaknya akan baik-baik saja, dan pada saat aku ingin menyandarkan sebentar saja kepalaku di pundaknya, dia menghilang. Aku duduk kembali ke bangku itu, sendirian. Pelayan-pelayan yang dulu pernah menatapku aneh, kini sudah tidak lagi bekerja ditempat ini. Sudah lama juga rupanya, aku tidak kembali lagi ketempat ini, sampai pelayan-pelayan itupun sempat berganti. Mengapa setiap kali perasaan itu muncul, aku pasti akan berada ditempat ini. Ditempat yang sama beberapa tahun yang lalu, saat aku bertemu dengan monster itu. 

Tepat 2 tahun lebih beberapa hari, aku kembali lagi ketempat itu. Malu rasanya mengingat dulu pun aku duduk diam, sendiri menjelajah tiap jengkal duniaku sendiri. Menatapku kembali monster itu sekarang, kelihatannya dia agak lebih gemuk dari pertama kali aku bertemu dengannya. Mungkin ada banyak orang yang kesepian dan menjadi santapannya setiap hari, seperti aku hari ini. Sebentar lagi, aku akan menjadi santapannya. Monster itu, untuk mengingatkan lagi, adalah monster yang bernama “Sendiri”. Mahluk yang akan membesar dan menutup dirimu dari dunia luar yang tidak ‘sendiri’. Pertanyaanku pun timbul begitu melihat matanya yang sayu dan menyedihkan:  hai, apa kabar? Apakah selama ini kau selalu sendiri dan mencari orang-orang yang sendiri? Apakah selama ini tidak pernah terlintas di pikiranmu untuk mencari seseorang untuk menemanimu mencaplok orang-orang putus asa dan yang ingin bunuh diri itu? Tapi sepertinya pertanyaanku yang terakhir adalah pertanyaan bodoh, karena jika kamu mencari partner, namamu bukan lagi ‘sendiri’ tapi ‘pecundang’, begitu bukan?? Kali ini, monster itu menitikkan air mata, seolah-olah mencoba mengingatkanku bahwa hari-hariku lebih melelahkan dibanding hari-harinya. Buatku, tingkahnya lebih menyakitkan dari pada dia duduk diam dan menatapku dalam. Entah mengapa kini rasanya aku yang ingin membesar dan menutupi semuanya. Inginnya aku mengalahkan ‘sendiri’ dan kembali ke duniaku yang sebelumnya penuh dengan warna dan tawa. Penuh dengan cinta dan air mata bahagia. 

Tiba-tiba ada secangkir kopi dan asbak bersih dan baru disodorkan dihadapanku. “Maaf mbak, saya ingat 2 tahun yang lalu mbak juga datang kesini, duduk dan merenung. Maaf kalau saya bersikap kurang ajar, tapi saya ingat sekali mbak akan duduk dan melakukan hal yang sama tiap kali mbak sepertinya ada masalah. Maafkan kekurang ajaran saya.” Sahut seorang laki-laki yang sedikit agak tua dan berpakaian sedikit berbeda dengan yang lain. Setelah beberapa kata basa-basi, baru aku mengetahui, laki-laki ini dulu hanya menjabat sebagai staff biasa dan kini ia sudah sedikit lebih sukses. Ia masih mengenaliku, sebagai salah satu ‘klien’ dari sang monster. Dari laki-laki itu pula aku mengetahui kalau keberadaan monster itu kian lama kian sering muncul ditempat itu. Rupanya tidak hanya aku yang pernah di singgahi oleh monster itu, karena laki-laki itu pun pernah dan sering di ‘singgahi’ sang ‘sendiri’. Tiba-tiba monster itu sedikit bergeser dan mengeluarkan bunyi yang sepertinya menggambarkan kalau monster itu tidak suka aku ditemani oleh orang lain. Hmm….masih saja monster ini kalah oleh keramaian, belum berubah! Kembali aku ditarik kepercakapan membosankan antara aku dan sang ‘sendiri’: 

Tidak! Aku masih belum ingin bertemu dengan mu saat ini. Meskipun aku merasa bahwa mungkin aku adalah your biggest client for now, tapi tidak! Aku tidak ingin mengalah padamu. Meskipun hari-hari gelapku selalu diwarnai dengan setitik air mata yang dengan tidak sopannya turun disaat aku mengenang orang itu, tetap tidak!! Aku tetap tidak ingin mengalah padamu. Meskipun tiap kali aku menjalani detik-detik dunia ini dengan muka topeng yang sudah dipatenkan khusus untukku sehingga ceria selalu terpampang diwajahku, tapi sungguh….tetap aku tidak ingin mengalah padamu.” Selesai aku mengucapkan kalimat itu, muncul satu monster lagi yang tampaknya lebih buruk dari yang ada didepanku. Aku terperanjat, karena monster itu membawa lagi beberapa teman-temannya. Setelah diperkenalkan, aku tau bahwa mereka adalah: “Sandiwara”, “Pecundang”, “Pengecut” dan “Pengkhianat”!!  Sang ‘sandiwara’ mendekati dan duduk persis disampingku sambil tersenyum sangat tidak manis. Ia pun berkata: “Selamat datang diduniaku perempuan! Kau akan terus berada disampingku setiap kali topeng itu kau pasang di wajahmu. Tunjukkan duniamu, perasaanmu dan kesedihanmu, maka aku akan pergi darimu!! Berganti kini sang ‘pecundang’ menghampiriku, “jika kau tetap ditemani ‘sendiri’ dan ‘sandiwara’ maka aku juga akan mengikuti bayanganmu”. Sang ‘pengecut’ berjingkat-jingkat mendekatiku lalu kemudian menuliskan beberapa kata di atas sehelai tissue di depanku: “kau benar-benar adalah cerminan dari diriku, aku suka kamu! Kau adalah pengecut terbesar yang pernah kutemui, mungkin sudah saatnya kamu menggantikan diriku. Kamu tidak pernah berani untuk mengatakan yang sesungguhnya, kau lebih pengecut dari diriku!” terkekeh-kekeh sang ‘pengecut’ itu berlompat-lompatan sambil masih bersembunyi.  Sang ‘pengkhianat’ tidak juga beranjak dari tempatnya, malah ia tersenyum dan pergi dengan sejenak saja berbisik pada sang monster ‘sendiri’, katanya: “aku tidak akan berada disisinya, karena ia hanya lelah tapi ia bukan pengkhianat. Aku akan pergi mencari orang itu dan berdiri di mimpinya tiap malam. Aku tidak perlu mengundangmu kesisi orang itu, karena ia lebih ‘sendiri’ daripada kau! Mereka lebih mengerti diriku. Mereka tau bahwa kemarin masih hidup, tetapi sekarang, aku tiada….

Bukan tiada karena mengunjungi dunia kematian, tapi tiada lagi didalam dunia warna-warni. Tiada lagi berada didalam dunia yang polos dan penuh tawa. Aku tiada….untuk sejenak!

PS: Merujuk ke cerita ku sebelumnya: “Dialog dengan ‘sendiri’

About Irha

Let's talk, and you'll know more about me....... Bla...bla...bla...bla... for the whole day... View all posts by Irha

2 responses to “Pada hari ini, aku tiada….

  • dedex

    senidri kadang begitu banyak orang.. saat semua yang ingin sirna namun selalu saja hadir. sepi kadang datang mencekam dulu.. datang di gelapnya malam namun sekarang kapan saja bisa datang.. tak tahu kenapa bisa terjadi… orang bilang dunia ini samai tapi kenapa tiba-tiba menjadi sepi.. yang berlalu biarlah berlalu esok kita jelang bersama dengan senyuman entah sepi atau sendiri.. karena besok kita tak tahu apa yang akan terjadi…

  • irha

    he eh….begitu deh….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: